HUBUNGAN STATUS GIZI DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA REMAJA

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Lily Marleni
Mardiah
Dessy Suswitha
Zuhana
Lenny Astuti

Abstrak

Saat ini PTM tidak hanya diderita oleh lanjut usia, namun juga mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda dan produktif, termasuk pada usia anak maupun remaja. Kasus PTM pada kelompok anak sama mengkhawatirkannya dengan kasus PTM pada kelompok dewasa. Apabila pada masa remaja memiliki kadar gula darah yang tinggi maka resiko diabetes di masa mendatang akan lebih besar. Diabetes ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi. Kadar gula darah setiap orang berbeda-beda, hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor seperti usia, jenis kelamin, genetic, asupan makanan, obat-obatan, stress, gaya hidup, dan aktivitas fisik. Selain itu status gizi turut berkontribusi dalam kadar gula darah seseorang. Status gizi bisa dapat diketahui melalui indeks masa tubuh (IMT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dan aktivitas fisik terhadap kadar gula darah pada remaja. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan cross sectional. Metode pendekatan cross sectional adalah jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran data variabel independent dan dependent hanya satu kali pada satu saat. Sampel yang didapatkan 32 orang. Dari hasil uji statistic didapatkan ada hubungan status gizi dengan kadar gula darah dengan nilai p value 0,0296 dan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah dengan nilai p value = 0,478 Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang penyakit tidak menular dengan menggunakan metode yang berbeda dan jumlah sampel yang lebih luas lagi

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

Referensi

  1. Aktivitas fisik dan pengaruhnya terhadap regulasi glukosa darahpada remaja. Jurnal Kesehatan Remaja, 11(2), 88–95.
  2. American Diabetes Association (ADA. 2013. Diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes Care (36): 67-70.
  3. Coates, D., Homer, C., Wilson, A., Deady, L., Mason, E., Foureur, M., & Henry, A. (2020). Induction of labour indications and timing: A systematic analysis of clinical guidelines. Women and Birth, 33(3), 219–230. https://doi.org/10.1016/j.wombi.2019.06.004
  4. Gainau, Maryam B. 2021. Perkembangan Remaja Dan Problematikanya. Yogyakarta: PT Kanisius
  5. Global school-based student health survey (GSHS). (2015). Noncommunicable diseases and their risk factakiors
  6. GOLD. 2017. “Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease.”
  7. Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2021). Textbook of medical physiology(14th ed.). Elsevier
  8. Irwan. (2016). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Yogyakarta : Deepublish
  9. Kemenkes RI. (2020). Diabetes melitus, Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
  10. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI;2015.
  11. Kementerian Kesehatan RI. penceghan dan pengendalian penyakit. Buku Pedoman Manajemen Penyakit Tidak Menular. Jakarta: 2019
  12. King A., Laura. (2012). Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
  13. Masruroh, Eny. 2018. Hubungan Umur dan Status Gizi Terhadap Kadar Gula Darah. Jurnal Ilmu Kesehatan Vol.6. No.2
  14. Nelwan, J. E. (2022). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular (Pertama). Eureka Media Aksa. Palifiana
  15. Nursalam. (2015). Metodologi ilmu keperawatan, edisi 4, Jakarta: Salemba Medika
  16. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  17. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2013.
  18. Susetyowati, Emy Huriyati, I. K. (2019). Peranan Gizi Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  19. Syarif DR. Evaluasi dan Tatalaksana Obesitas pada Anak. Pus Inf dan Penelitian, Bag IPD. 2002;23–8.
  20. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto; 2010
  21. Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet.
  22. Sugondo, S. 2006. Obesitas. Editor Sudoyo. W, Setiyohadi. B, Alwi.I, Simandibrata. K, Setiati. S. Bahan Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  23. Warganegara, E., Nur, N. (2016). Faktor Risiko Perilaku Penyakit Tidak Menular. Majority. 5 (2). 88-94
  24. WHO. 2014. Health for the World’s Adolescents: A Second Chance in the Second Decade. Geneva, World Health Organization Departemen of Noncommunicable disease surveillance. (2014)
  25. World Health Organisation. (2004). International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, Tenth Revision, Volume 2. In International Classification of Diseases and Related Health Problems. Tenth Revision. Volume 2. https://doi.org/10.1016/j.jclinepi.2009.09.002
  26. World Health Organization. Obesity: Preventing and managing the global epidemic. Report of a WHO consultation on obesity; 1997 June 3-5; Geneva, Switzerland: WHO; 2022
  27. Yuningrum, Hesti. Dkk. 2021. Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular pada Remaja. Jurnal Formil. KesMas REspati Vol. 6 No. 1. Yogyakarta.
  28. Yusnanda, F., Rochadi, R. K., & Maas, L. T. (2019). Pengaruh Riwayat Keturunan terhadap Kejadian Diabetes Mellitus pada Pra Lansia di BLUD RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh Tahun 2017. Journal of Healthcare Technology and Medicine, 4(1), 18–2